Tiongkok Mendukung Penyelesaian Perang Dagang

SINGAPURA – Para pemimpin dunia akan mendorong percepatan penyelesaian kesepakatan perdagangan besar-besaran yang didukung Tiongkok, menyusul absen nya Amerika Serikat (AS) pada konferensi tingkat tinggi (KTT) Asean pekan ini. Upaya – upaya mencapai kesepakatan ini merupakan bentuk kecaman terhadap meningkatnya kebijakan proteksionisme dan agenda America First yang diusung Presiden AS Donald Trump

Di sela-sela pertemuan puncak itu, Tiongkok, Jepang, India, dan negara – negara Asia Pasifik lainnya juga akan mengumumkan kesepakatan luas tentang Kemitraan Komprehensif Ekonomi Regional Regional (Comprehensive Economic Partnership/RCEP) yang mencakup sekitar setengah populasi dunia.

Perang dagang China dan Amerika

Tiongkok Mendukung Penyelesaian Perang Dagang

Selain absen dari kesepakatan, Trump juga tidak menghadiri KTT yang diselenggarakan di Singapura. Trump sendiri menyoroti seberapa jauh ia telah menarik kembali dari upaya-upaya membentuk aturan perdagangan global dan mengajukan pertanyaan lebih lanjut tentang komitmen Pemerintah AS untuk Asia.

Pasalnya dia telah meluncurkan kebijakan perdagangan unilateralis, tak lama setelah menjabat sebagai presiden dengan menarik diri dari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP). Padahal, kesepakatan tersebut dipelopori oleh pendahulu Trump, Barack Obama yang bertujuan mengikat kekuatan Asia yang tumbuh cepat dengan tatanan negara yang didukung Amerika guna melawan Tiongkok.

Baca Juga : Daftar Harga Genset Perkins dan Kegunaan Genset Perkins

Pendekatan Trump telah membuka peluang bagi Pemerintah Tiongkok untuk mempromosikan pakta saingan, yakni RCEP yang beranggota 16 negara. Kesepakatan perdagangan bebas ini bertujuan mengurangi tarif dan mengintegrasikan pasar, juga memberikan perlindungan kepada negara yang lebih lemah di berbagai bidang termasuk lapangan pekerjaan dan lingkungan hidup.

Sementara itu, pakta yang diperjuangkan oleh Obama tetap berjalan dan mulai berlaku tahun ini, kendati tanpa ke ikut sertaan AS. Tetapi pakta yang didukung Tiongkok kini telah mengambil alih sebagai kesepakatan terbesar di dunia.

Menurut Direktur Eksekutif Asian Trade Center, Deborah Elms kesepakatan yang secara resmi dimulai pada 2012 telah diumumkan di Singapura. “Sebagian besar pembicaraan yang disimpulkan menjadi simbol penting komitmen Asia untuk berdagang pada saat ketegangan global meningkat,” ujar dia kepada AFP.

Elm menambahkan, negosiasi di beberapa daerah kemungkinan akan berlanjut ke tahun depan. Namun ketika seorang diplomat menghadiri KTT berbicara secara anonim, ia mengatakan ada kemajuan penting telah dibuat tetapi masih ada hambatan – hambatan dalam pembicaraan.

Pertemuan 20 pemimpin dunia tersebut datang dengan latar belakang perselisihan perdagangan selama sebulan antara Tiongkok dan AS setelah Trump memberlakukan tarif pada sebagian besar impor barang Tiongkok pada musim panas ini.

Pemerintah Tiongkok membalas dengan pungutan nya sendiri. Kebuntuan perdagangan antara keduanya memiliki dampak jauh di luar AS dan Tiongkok. Sementara itu, pertemuan selama empat hari antara para pemimpin akan menyuarakan keluhan masing-masing kepada Wakil Presiden AS Mike Pence yang hadir menggantikan Trump.

Ketidak hadiran Trump dari pertemuan Singapura dan pertemuan para pemimpin dunia di Papua Nugini bahkan mendapat sorotan utama karena Obama yang meluncurkan apa yang disebut poros ke Asia, untuk mengarahkan lebih banyak sumber daya ekonomi dan militer AS ke wilayah tersebut.

Related Posts

About The Author

Add Comment